Berita Otomotif

Harga Mobil Bekas Bisa Hancur Jika Keringanan Pajak Disetujui

Harga Mobil Bekas Bisa Hancur Jika Keringanan Pajak Disetujui

Harga Mobil Bekas Bisa Hancur Jika Keringanan Pajak Disetujui

Pedagang mobil bekas (mobkas) tak setuju kalau relaksasi pajak untuk mobil baru terlaksana. Alasannya, kebijakan itu dapat mengacak-acak harga mobil bekas di pasaran.

Salah satu pedagang mobkas, Yopi, dari Paskah Mobil menyebut efek yang bakal berjalan andai kebijakan itu disetujui Kementerian Keuangan ialah membawa dampak jatuhnya harga pasaran mobil bekas.

“Harga mobil bekas jadi hancur tidak karuan,” kata Yopi kepada detikcom.

Pada September lalu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengusulkan relaksasi pajak pembelian mobil baru sebesar nol persen atau pemangkasan pajak kendaraan bermotor (PKB). Upaya ini diinginkan dapat menstimulus pasar sekaligus mendorong pertumbuhan sektor otomotif di tengah era pandemi COVID-19, namun ditolak oleh Menteri Keuangan.

Kala itu, banyak customer menunggu kebijakan tersebut. Walhasil dampaknya ikut kerasa terhadap pedagang mobil bekas. Kini diakuinya perlahan-lahan penjualan sudah menjadi sembuh kembali.

“Mereka baru coba memperbaiki kerugian-kerugian akibat pandemi dan isu-isu terhadap oktober 2020,” sambungnya.

Lalu Kemenperin mengusulkan kembali agar Kemenkeu berikan keringanan terhadap PPnBM saja.

“Ini (PPnBM) sebetulnya suatu hal yang kita usulkan, dan aku sudah laporkan ke bapak presiden, secara prinsip beliau setuju, namun sebetulnya kementerian keuangan masih di dalam sistem hitung menghitung,” kata Agus saat konferensi pers, Senin (28/12/2020).

Yopi berharap agar pemerintah tidak memberlakukan kebijakan diskon PPnBM terhadap pembelian mobil baru tersebut.

“Memberikan kelonggaran kredit kembali di leasing/bank bersama DP rendah dan bunga rendah, ini solusi yg paling benar,” bilang keterangannya.

Pandangan yang sama termasuk singgah dari Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu. Ia menilai wacana keringanan pajak mobil baru dari pemerintah, tak bakal membawa dampak harga mobil turun signifikan. Yannes mengatakan mesti ada campur tangan dari industri otomotif, agar harga mobil jadi lebih terjangkau agar dapat menambah daya membeli penduduk di tengah pandemi.

Yannes merekomendasikan agar industri otomotif ikut ambil bagian di dalam mengeluarkan kebijakan, agar harga mobil dapat jadi lebih murah lagi. Salah satu kebijakan yang disarankan adalah menurunkan margin keuntungan.

“Idealnya, industri termasuk menurunkan profit marginnya dan tidak serta merta memasukkan komponen inflasi bersama prosentase yang lumayan besar (misalnya dimisalkan pertahunnya harga mobil baru tidak naik kebanyakan hingga 10% gitu),” terang Yannes.

“Jadi kalau harga menjual awal Rp 230 juta, selanjutnya baik pemerintah pusat dan industri mengurangi komponen inflasi dan profit marginnya, agar misalnya, harga menjual mobil MPV selanjutnya jadi Rp. 200 jutaan, ini baru menarik minat penduduk yang keuangannya termasuk belum bagus-bagus amat. Karena, semua masih terdampak oleh pandemi COVID-19 ini,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *